Sehabis baca-baca di detik.com saya menemukan sebuah artikel yang baru saja di update pagi ini 22-07-2013 Tunda LTE Sampai 2018, Ancaman Macet Total yang membuat saya kagum dengan tulisan tersebut membahas tentang Teknologi 4G LTE yang harus secepatnya di adopsi di indonesia karena penguana sudah haus akan kecepatan internet yang sangat tingggi
Jakarta - Kemacetan lalu lintas telah menjadi menu wajib warga Jakarta.
Bukannya membaik, tahun ini kemacetan semakin parah. Tidak hanya di
Jakarta, melainkan telah meluas di kota besar lainnya. Bahkan kemacetan
parah juga terjadi setiap hari di tol Cikampek dan jalur Pantura.
Berbagai inisiatif pemerintah untuk mengurangi kemacetan disikapi warga
dengan pesimis, pasrah bahkan penolakan. Mungkin saja karena warga tidak
percaya lagi kepada pemerintah yang dianggap terlalu lambat menyikapi
hal ini. Sebut saja program MRT dan monorail yang tidak mulus sampai
saat ini.
Kenapa sampai demikian? Karena pemerintah terlambat membaca angka
penjualan sepeda motor yang lebih dari 7 juta per tahun dan mobil yang
mencapai 1 juta per tahun, dan terus tumbuh dua digit. Sementara
pembangunan jalan baru dan tol jauh dari mencukupi. Dikutip dari
www.worldbank.org, total jaringan jalan tercatat 477 ribu kilometer dan
jumlah jalan tol yang terbangun sejak 1978-2010 baru sepanjang 742 Km.
Seperti halnya infrastruktur jalan raya, LTE adalah infrastruktur
broadband yang boleh disebut sebagai jalan tol. Serupa dengan
perencanaan pembangunan jalan tol, penggelaran LTE memang sangat
kompleks, tentu tidak semudah 3G. Karenanya butuh political decision dan
komitmen seluruh pihak termasuk operator, pengguna, BRTI, Kementerian
Kominfo, dan kementerian lain yang terkait.
1. Long Term Evolution (LTE)
Long Term Evolution (LTE) adalah standar komunikasi data nirkabel dengan
kecepatan tinggi yang berbasis pada jaringan GSM/EDGE dan UMTS/HSPA.
Secara teori teknologi ini mampu mengunduh file dengan kecepatan 300
Mbps dan kecepatan unggah 75 Mbps.
LTE dikembangkan 3GPP, organisasi penerbit standar teknologi GSM, dengan
maksud untuk menjamin ketersinambungan sistem 3G yang saat ini telah
digunakan secara luas di seluruh dunia. Tentu saja juga untuk memenuhi
kebutuhan akses data yang semakin cepat dengan kualitas yang semakin
baik. LTE dipercaya bakal menjadi standar jaringan seluler global, baik
untuk GSM maupun CDMA.
2. LTE Indonesia Tahun 2018?
Sampai saat ini pemerintah belum menyampaikan rencana jelas, kapan
teknologi ini akan diterapkan. Pemerintah sedang fokus menyelesaikan
tender 3G dan menata ulang seluruh blok frekuensi tersebut. Pemerintah
beralasan kelambatan adopsi LTE disebabkan tidak tersedianya spektrum
yang sesuai. Spektrum 700 MHz yang dianggap ideal masih digunakan oleh
televisi analog dan baru bisa dimanfaatkan tahun 2018.
Selain karena spektrum, teknologi 3G juga disebut belum dimanfaatkan
secara maksimal. Lagipula, investasi LTE sangat besar, sementara
smartphone yang mendukung LTE masih terbatas.
Karena hambatan tersebut, beberapa pihak memandang keberadaan LTE saat
ini belum urgent. Karenanya LTE bisa ditunda sampai 2018.
Pandangan tersebut amat spekulatif dan beresiko. Adopsi LTE harus
menjadi prioritas industri telko negeri ini. Tahun 2014 menjadi masa
ideal implementasi LTE, paling tidak karena beberapa alasan di bawah
ini.
3. Sejarah Adopsi Teknologi
Adopsi teknologi CDMA, GSM, 2G dan 3G di Indonesia berkisar 4-6 tahun
sejak teknologi tersebut komersial untuk pertama kalinya. Sedangkan
teknologi LTE telah diluncurkan secara komersial sejak Desember 2009.
Belajar dari sejarah tersebut, tahun 2013-2015 merupakan masa ideal
untuk adopsi LTE di Indonesia.
Kenapa ideal? Menunggu 4-6 tahun dikatakan ideal, setidaknya karena
alasan berikut. Pertama, tidak semua teknologi baru diterima publik dan
populer. Sebagai contoh teknologi WiMAX. Meskipun teknologi ini lahir
lebih dulu dan memiliki spesifikasi teknis yang setara, namun tampaknya
tidak akan berkembang karena kalah bersaing dengan LTE.
Kedua, butuh waktu untuk belajar. Indonesia bisa belajar dari
implementasi LTE di berbagai negara dengan berbagai frekuensi dan
kondisi lapangan yang berbeda. Ketiga, biaya mahal. Setiap teknologi
baru, pada awalnya harga infrastruktur dan device-nya selalu mahal,
namun perlahan akan turun. Keempat, memberi kesempatan penetrasi kepada
teknologi sebelumnya, 3G HSPA.
4. Adopsi Global
LTE komersial diluncurkan pertama kali oleh Teliasonera di Stockholm dan
Oslo pada Desember 2009. Sampai kuartal pertama tahun ini, ABI Research
melaporkan jumlah pengguna mencapai 108 juta. IDATE memperkirakan
jumlah pengguna bakal naik tajam, hingga mencapai 915 juta pada akhir
2016 dan menyentuh satu miliar pada 2017.
LTE telah diadopsi oleh hampir seluruh belahan dunia, lebih dari 90
negara. Tidak hanya di negara maju, namun telah dinikmati banyak negara
berkembang. Seperti Angola, Tanzania dan Namibia di benua Afrika.
Bahrain, Oman dan Libanon di belahan Timur Tengah. Serta Malaysia,
Thailand dan Philipina di Asia Tenggara.
Bahkan bulan lalu, SK Telecom Korea Selatan membuat kejutan dengan
meluncurkan LTE-Advanced komersial pertama di dunia. Dalam dua minggu
dilaporkan telah menjangkau Seoul dan 43 kota lainnya, serta sukses
menggaet 150 ribu pelanggan.
Jika saat ini negara berkembang dan tetangga sudah menikmati, mampukah masyarakat Indonesia menunggu LTE sampai 2018?
4. Dukungan Gadget
Hampir semua produsen gadget global telah menjual tablet dan smartphone
dengan dukungan LTE. Sebut saja beberapa merk populer seperti Apple
iPhone 5, Blackberry Z10 dan Samsung Galaxy S4. Juga seperti HTC One, LG
Optimus G dan Nokia Lumia 920. Bahkan termasuk merk lapis berikutnya
seperti Windows Phone X8, Sony Xperia V dan Asus PadFone 2.
Perusahaan riset IDC melaporkan pada kuartal dua tahun ini, untuk
pertama kalinya penjualan smartphone melebihi feature phone. Lebih
lanjut mereka memperkirakan akhir tahun ini jumlah smartphone global
akan mencapai 918 juta dan terus naik sampai 1,5 miliar pada 2017.
Jumlah tersebut berkisar dua-pertiga dari total pasar ponsel global.
Pasar smartphone Indonesia dengan sendirinya akan mengikuti pasar
global. Terlebih lagi, pasar Indonesia cenderung irrasional, karena
lebih mementingkan lifestyle. Dari 240 juta lebih pengguna ponsel di
Indonesia, diperkirakan lebih dari 40 juta adalah pengguna smartphone.
Meskipun dari jumlah tersebut porsi smartphone LTE masih relatif kecil,
namun diyakini akan segera berbalik ketika LTE sudah tersedia dan
harganya semakin terjangkau.
Jika pengguna smartphone di Indonesia sudah demikian luas, mampukah masyarakat Indonesia menunggu LTE sampai 2018?
5. Internet Indonesia
Meskipun jumlah pengguna internet sudah mencapai 62,5 juta pada akhir
2012, namun penetrasinya masih 27 persen. Angka ini masih berada di
bawah Vietnam yang telah mencapai 30,5 persen, dan belum memenuhi target
50 persen sesuai kesepakatan 10 negara Asia Tenggara.
Akamai Technologies melaporkan rata-rata kecepatan internet di Indonesia
sebesar 1,2 Mbps, menempatkan Indonesia di peringkat 115 dunia. Angka
ini berada di bawah rata-rata kecepatan internet global sebesar 2,8
Mbps. Angka tersebut bahkan berada di bawah Vietnam sebesar 1,6 Mbps,
Malaysia 2,2 Mbps dan Thailand 3,1 Mbps.
Jika posisi internet Indonesia masih jauh di belakang, tidakkah berniat
membuat lompatan? Mampukah Indonesia menunggu LTE sampai 2018?
6. Pendorong Pertumbuhan Ekonomi
ITU melaporkan setiap peningkatan penetrasi broadband 10% akan mendorong
kenaikan Gross Domestic Bruto (GDB) sebesar 1,38%. Sementara Business
World melaporkan broadband telah menyumbang kenaikan GDB rata-rata 2%.
Khusus di Indonesia, BPS menunjukkan kontribusi subsektor telekomunikasi
terhadap PDB tahun 2012 sebesar 3,2%.
Senior Director Spectrum Policy & Regulatory Affairs GSMA, Chris
Perera memaparkan kepada sejumlah media di Jakarta (23/5/2013), bahwa
penundaan LTE selama empat tahun, dari tahun 2014 ke 2018, bisa
menghasilkan kerugian sebesar USD 16,9 miliar untuk GDP, USD 4,7 miliar
untuk pajak, 79.000 usaha dan 152.000 lowongan kerja. Kerugian ini
ditaksir bisa lebih dari USD 20 miliar atau sekitar Rp. 200 triliun.
Awas Internet Macet Padat Merayap.
Seandainya pemerintah tidak segera mengambil political decision dan
tetap berencana mengadopsi LTE pada tahun 2018, maka dari argumentasi di
atas, rasanya tidak berlebihan jika sejumlah pihak memprediksi internet
bakal macet total, padat merayap layaknya kemacetan kota Jakarta.
Pada saat itu, LTE tidak mampu lagi menjawab kebutuhan dan solusi pun
semakin sulit ditemukan. Kondisi akan lebih parah, jika masyarakat tidak
percaya lagi kepada kemampuan pemerintah mengatasi permasalahan
infrastruktur broadband.
Sebagai bagian anak negeri dan pengguna telekomunikasi, kita tentu
berharap semoga pemerintah segera mengambil keputusan dan mempersiapkan
adopsi LTE secepatnya. Tahun 2014 merupakan tahun ideal, atau setidaknya
2015. Semata-mata untuk menghindari kekisruhan industri telko dan demi
kemakmuran bangsa Indonesia.
Dari bacaan di atas bisa di simpulkan bawah indonesia mestinya tahun
2014 sudah mengadopsi teknologi ini supaya tidak rugi . semoga saja
pemerintah bisa cepat dalam menangain hal seperti ini

0 komentar:
Posting Komentar